Home / Sains / Ini 7 Fakta Lumba-lumba yang Jarang Diketahui kisah Selamatkan 12 Pemancing di Tengah Laut

Ini 7 Fakta Lumba-lumba yang Jarang Diketahui kisah Selamatkan 12 Pemancing di Tengah Laut

Cerita dramatis dialami oleh rombongan pemancing yang berasal dari Kecamatan Luwuk, Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah. Rombongan pemancing berjumlah 12 orang ini harus berjuang bertahan hidup selama 4 hari di atas laut setelah kapal yang mereka tumpangi tengelam. Saat terombang ambing di tengah lautan, ada kejadian luar biasa yang dialami rombongan pemancing ini.

Yaitu terdapat gerombolan ikan lumba lumba yang membantu mereka menemukan rakit. Terlepas dari cerita di atas, lumba lumba memang sejak dulu dikenal sebagai hewan yang cerdas, sehingga tidaklah heran mamalia ini mengisi atraksi sirkus di berbagai belahan dunia. Untuk mengenal lebih dekat hewan dari famili Delphinidae ini, berikut 7 fakta lumba lumba yang jarang diketahui.

Dikutip dari wwf.org.uk , lumba lumba dapat ditemukan di seluruh dunia dan di lingkungan yang berbeda. Ada 36 spesies lumba lumba laut hidup di hampir semua lingkungan perairan, termasuk lautan, pesisir, muara dan air tawar. Baik dari perairan bersuhu kurang dari 0 ° C hingga lebih dari 30 ° C.

Di Inggris, lumba lumba hidung botol terkonsentrasi di sekitar Wales barat dan Skotlandia timur dengan pantai pantai Devon dan Cornwall juga memiliki polong. Skotlandia adalah rumah bagi pod lumba lumba hidung botol paling utara di dunia. Sedangkan di perairan Indonesia, kita dapat menemukan 16 jenis lumba lumba, mulai dari lumba lumba hidung belang hingga lumba lumba Fraser.

Di Sungai Amazon adalah rumah bagi empat spesies lumba lumba sungai yang tidak ditemukan di tempat lain di Bumi. Lumba lumba hidung botol biasanya merupakan perenang yang lambat. Mereka berenang dengan kecepatan sekitar 2 mph.

Namun mereka dapat mencapai kecepatan lebih dari 30 mph untuk waktu yang singkat. Saat berburu lumba lumba menghasilkan gelembung untuk menggiring mangsanya ke permukaan. Mereka kadang kadang juga menggunakan teknik berburu yang disebut 'memukul ikan', di mana mereka menggunakan ekornya untuk memukul ikan

Ini membuat mangsanya pingsan dan membuat lebih mudah ditangkap. Lumba lumba memiliki beberapa kemampuan akustik paling rumit di dunia hewan. Mereka membuat berbagai suara termasuk peluit, klik, squawks, cicitan, rintihan, gonggongan, erangan dan keluhan.

Lumba lumba hidung botol adalah salah satu dari sedikit spesies, bersama dengan kera dan manusia, yang memiliki kemampuan untuk mengenali diri mereka sendiri di cermin. Ini dianggap 'reflektif' dari kecerdasan mereka. Lumba lumba juga termasuk di antara beberapa hewan yang telah didokumentasikan menggunakan alat.

Lumba lumba hidung botol tidur dengan setengah otak mereka sekaligus, dan tetap buka satu mata. Diyakini mereka melakukan ini untuk mengawasi kelompok mereka dan memastikan mereka tetap bersatu Cara ini juga digunakan untuk menjauhkan mereka dari serangan pemangsa lain seperti hiu.

Cerita dramatis dialami oleh rombongan pemancing yang berasal dari Kecamatan Luwuk, Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah. Rombongan pemancing berjumlah 12 orang ini harus berjuang bertahan hidup selama 4hari di atas laut setelah kapal yang mereka tumpangi tengelam. Perjalanan rombongan pemacing yang dipimpin Ekky Azwar berangkat dari darat pada Jumat (23/11/2019) lalu.

Dikutip dari channel YouTube tvOneNews, Ekky mengatakan, awalnya mereka berniat memancing di lokasi yang berjarak 6 jam perjalanan laut dari darat. “Niatnya kami mau memancing di Banggai laut,” ungkap Ekky. Ketika sudah melakukan perjalanan selama 5 jam, mulai terjadi kerusakan di kapal yang ditumpangi oleh Ekky dan rombongan.

Ketika itu muncul kepulan asap dari bagian mesin kapal. Sontak kejadian ini membuat rombongan panik. Ada yang berupaya menyiram kepulan asap dengan peralatan seadanya.

Sangat disayangkan kepulan asap semakin pekat dan membuat rombongan pemancing ini semakin panik. Takut jika kapal meledak, Ekky dan ke 11 temannya memutuskan mengenakan jaket keselamatan. “Ada yang mengambil pelampung, untuk siap siap jika kapal meledak,” kata Ekky.

Selain mengenakan jaket keselamatan, rombongan juga mengambil sebuah kasur yang ada di dalam kapal untuk digunakan alat pertolongan. “Kasur itu untuk mempersatukan kita saat berada di permukaan laut,” lanjut Ekky. Ekky dan rombongan mulai terombang ambing hingga matahari tenggelam.

Cobaan kembali datang ketika datang ikan pemangsa berjenis hiu yang mencoba menyerang mereka. Dalam serangan ini, seorang rekan Ekky mengalami luka yang cukup parah di bagian betis. Baca:

“Kawan disambar hiu waktu itu malam gak ada yang melihat,” tutur Ekky. Pertolongan diberikan kepada korban dengan membungkus kaki yang terluka untuk mencegah darah menetes ke laut. Langkah ini dilakukan untuk mencegah hiu datang kembali.

Pasca serangan hiu, Ekky dan rombongan berubah posisi dengan meletakkan semua kaki di atas kasur. “Kita mengubah posisi kaki di atas kasur, katanya, telapak kaki tenang jika di permukaan air laut,” terang Ekky. Beserta kawan kawannya, Ekky mengaku pasrah dan berdoa supaya tidak terserang hiu kembali.

Ekky melanjutkan ceritanya, mereka kemudian tersadar keesokan harinya. “Kita tersadar sudah pagi,” kata Ekky. Ekky mengatakan, di hari kedua ini dirinya dan rombongan bergerak mengikuti arus laut.

Menurutnya arus laut ketika itu cukup kencang. Setelah beberapa saat kemudian, rombongan pemancing ini melihat sebuah rakit kecil. Seorang rekan Ekky berinisiatif berenang untuk mengambil rakit ini untuk mereka tumpangi.

“Kita melihat rumpon (rakit), kami pakai sebagai pertolongan pertama kita,” kata dia. Kejadian mengejutkan kembali terjadi. Bukan karena serangan hiu, melainkan ada rombongan ikan lumba lumba yang mendekati rakit mereka.

Ekky mengatakan rombongan lumba lumba ini berada di sekeliling rakit mereka baik dari arah kiri, kanan, dan belakang. Menurutnya, lumba lumba ini mengikuti rakit yang ditumpangi hingga mereka menemukan rakit yang kedua. “Lumba lumba mengiringi kita,” ujar Ekky.

Beberapa saat setelah rombongan lumba lumba meninggalkan para pemancing, tiga ekor hiu mengampiri mereka. Ekky dan rekan rekan memberikan perlawan dengan memukul hiu tersebut dengan bilah bambu yang digunakan untuk mendayung rakit. Syukur serangan yang kedua ini tidak melukai Ekky dan rombongan.

Setelah terapung apung tanpa kejelasan, di hari ketiga, Ekky dan rekan rekannya melihat nelayan yang sedang memancing di perairan Morowali. Mereka berusaha keras menarik perhatian nelayan tersebut dengan memanggil manggil mereka. Usaha tidak berhenti di situ.

Mereka mengambil sebatang bambu di mana bagian ujungnya diikatkan baju keselamatan lantas dilambaikan sebagai penanda keberadaan rombongan. “Biar mereka lihat,” turut Ekky. Atas usaha keras, nelayan yang sedang memancing melihat keberadaan rombongan dan akhirnya menyelamatkan mereka.

Ekky mengatakan kondisinya dan rekan rekannya saat ini sudah membaik, termasuk seorang temannya yang sempat digigit ikan hiu kini telah mendapatkan perawatan medis. “Alhamdulillah sudah baik dan pulih,” aku Ekky. Dirinya mengaku selama terapung apung di laut, rombongan bertahan hidup tanpa makan dan minuman.

Menurunya, yang bisa menyelamatkan mereka adalah keyakinan untuk bertahan hidup. "Makanan dan minuman tidak ada, kita saling memberi semangat dan menguatkan hati," ungkapEkky. (*)

About Admin

Avatar
Kesakitan membuat Anda berpikir. Pikiran membuat Anda bijaksana. Kebijaksanaan membuat kita bisa bertahan dalam hidup.

Check Also

7 M Ashera Bisa Sampai Rp 1 12 Jenis Kucing Paling Mahal di Dunia

Kucing Ashera disebut sebut sebagai kucing termahal di dunia. Kucing dengan penampilan seperti leopard ini …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *